Quiet Realm (1)

Kau masuk ke dalam dunia lain, namun

Kau sebenarnya baru saja keluar dari duniamu, lalu

Melihat hal-hal yang mampu membuatmu lupa akan masa lalu

“Smokey”
Iklan

Novel: Z Cage (1)

PicsArt_02-13-07.59.07

Jenis: novel

Penulis: Imelda Yoseph

Status: tahap penulisan -blurb only (di sini)

______

  1. Rasa Takut

Ada banyak kalimat untuk menjelaskan rasa takut, namun tetap saja, apa sebenarnya rasa takut itu?

Aku mudah tersengat perasaan ini seperti ketika malam mulai jatuh, langit menggelap karena mendung, atau burung mendadak mengepakkan sayap saat melintas di atas kepala.

Setelah sekian lama tersiksa, aku pun mencoba memahami penyebab utamanya. Dari sekian kesimpulan yang kudapat setelah merenung selama berjam-jam, ketidaktahuan-lah yang paling berkontribusi besar dalam hal ini.

Aku tidak memiliki pilihan selain masuk ke dalam area yang dikelilingi pagar itu.

 

 

 

 

Rasa Yang Memudar

5
‘Gadis dan Dunianya’ oleh Imelda Yoseph (Kin)

Kau berada di dalam ruangan penuh mimpi dan angan-angan. Di luar sana, keributan besar sama sekali tak mengganggu dunia kecilmu.

Namun begitu, kau pun berangsur bertanya-tanya, “Kenapa aku merasa hambar akan semua itu?”

Jika saja makna keindahan di setiap kepala manusia itu sama,

Jika saja standar bercabang itu tidak ada,

Jika saja indikator normal itu jelas,

Jika saja mengenali setiap rasa itu mudah,

….lidah dan hatiku mungkin tidak akan kehilangan sentuhannya.

 

 

 

 

Ulasan Singkat Novelet ‘Kisah Dari Kegelapan’

Imelda Yoseph-KDK Front View
Penampakan sampul depan Kisah Dari Kegelapan

Judul: Kisah Dari Kegelapan (klik untuk jalan-jalan Google Ps)

Genre : Misteri-Supernatural

Penulis : Imelda Yoseph

Versi : E-Book oleh Snowdrop Creative Partner

Blurb

Rui Keilan bukanlah orang yang mudah berinteraksi dengan orang lain. Selain faktor itu, dia juga memiliki banyak alasan lainnya. Dan oleh karena itu, dia pun memutuskan untuk bekerja di rumah sebagai penulis di sebuah situs daring bernama Komunitas M&M. Di sana, Rui menjadi seorang penulis fiksi dan non-fiksi, sebuah pekerjaan yang akhirnya berhasil menarik dan menghidupkan hatinya.

Di tahun kedua menjadi seorang penulis, sebuah kejadian besar dan traumatis mengguncang hidup Rui. Dan bagian terburuk dari kejadian itu adalah soal keterkaitannya dengan novel kelima Rui.

Untuk menuntaskan masalah itu, apa yang akan Rui lakukan?

*****

Imel’s Notes

Ide awal buat KDK ini tuh bukan dalam bentuk cerita yang melibatkan hantu, tapi murni misteri-thriller gitu. Hehehehe…Di tengah mentok nyari ide buat kanjutin novel ‘Soana’, eh ide KDK malah muncul. Karena enggak mau idenya ngilang gitu aja…hajar selesein deh.

Untuk kapasitas dan kualitasku yang sekarang, nulis cerpen atau novel ternyata enggak mudah. Setelah dipikir-pikir lagi, pilihanku akhirnya jatuh ke jenis novelet, yang memang dari segi lingkupnya yang mirip cerpen dan lebih singkat dari novel.

Dan…voila..jadilah KDK! Alhamdulillah….

Kisah Dari Kegelapan ini bakal dibuat jadi karya berseri, yang fokus pada satu tokoh inti: Rui Keilan. Tapi, buat teman-teman yang berminat membaca KDK tapi tidak suka cerita bersambung, kalian enggak perlu cemas karena KDK bakal menyajikan konflik berbeda di tiap bukunya.

Untuk sekarang, novelet KDK sudah punya 3 judul

Kisah Dari Kegelapan (terbit)

KDK 2 ‘Aku Melihatmu’ (on the way)

KDK 3 ‘Bayangan’ (also on the way)…

Apakah Mereka Mulai Melihatmu Sebagai Dirimu?

beautiful journalist looks typewriter
Menulis

Bagian ke-3

Mulai dari cara, bentuk peralatan, hingga bagaimana menyajikan nasi, semuanya mengalami perkembangan. Ini contoh paling sederhana. Dan, begitu juga yang terjadi dengan dunia berkarya, termasuk menulis fiksi.

Perubahan ini ada yang bertahan lama, ada juga yang cepat terlupakan. Ada yang berhasil dianggap luar biasa, ada juga yang hanya trend sesaat.

Garry bilang, “Daripada kesulitan mengikuti trend yang kita sedikit pemahaman tentangnya, ini lebih baik menulis sesuatu yang hanya kau yang mampu menulisnya.”

Aku…ini aku!

Aku suka dengan fantasi. Alasan? Di waktu santai, aku sering bilang kalau aku menyukai genre ini karena karakterku yang anak rumahan. Benar. Memang benar kalau jarang jalan-jalan bisa mempersempit sense untuk latar tempat dan suasana.

Tapiiii….itu bukan alasan terbesarku.

Aku melihat sesuatu di dalam genre fiksi-spekulatif sejenis fantasi.

Fiksi adalah beragam fakta yang diaduk menjadi adonan yang, aku bilang, terlihat fiktif tapi merupakan replika dari fakta itu sendiri. Saat menyajikannya, beberapa orang lebih suka membentuknya dalam bentuk buah lemon padahal rasanya adalah semangka (Hahahaha…weird!)

Saat menulis sesuatu, entah itu berupa penggambaran sosok, kejadian, atau tempat, proses memoles dan menyamarkan beberapa bagian bisa menjadi agenda menantang. Ada seni di situ.

Metafora? Batu Bertuah bukanlah batu biasa, melainkan lambang dari sebuah harapan.

Ini yang aku suka.

Amarahnya disulap menjadi kegelapan malam tanpa henti, salju yang tidak bisa meleleh, atau dingin yang mampu menembus dinding lebih tebal dari 100 meter.

Inti dari bagian ke-3 ini, temukan siapa dirimu, bagaimana gayamu, dan apa yang membuatmu senang.

Bagian 1: Apa Sebenarnya yang Ada dalam Pikiranmu?

Bagian 2: Bisakah Membuka Kunci Pintu Lainnya Dengan Mudah?

Bisakah Membuka Kunci Pintu Lainnya Dengan Mudah?

beautiful journalist looks typewriter
Menulis

Bagian ke-2

Garry bilang itu sangat mungkin…

Tapi…apa kita siap dengan proses menuju ke masa itu? Pertanyaan yang susah dijawab karena kita masih dalam proses tersebut. Enggak masalah. Kita bisa dengan percaya diri mengatakan ‘iya’ setelah tiba di posisi itu.

Bagaimana aku bisa tahu? Tahu, heh?

Daripada menyebutnya ‘tahu’, aku lebih suka menamainya ‘I don’t give a zh*t’. Kenapa? Pertimbangkan ini. Jika kamu lebih nyaman dengan cara berpikir ‘A’, maka tidak masalah bertahan di sana karena apa pun yang kamu pikirkan di awal…hasil tetap setia pada apa yang disebut dengan ‘usaha’, dan itu semua hanya terjadi dalam rentang waktu bernama ‘proses’. So, let’s focus on it first, the process.

Kemarin aku bingung. Hari ini aku belajar sesuatu. Masih di hari ini, aku mempraktikkan apa yang sudah kudapatkan. Masih di hari ini lagi, aku akan terus berusaha melakukan yang terbaik. Lagi…aku mulai merasakan manfaatnya.

Apakah hari esok itu benar-benar sesuatu yang lain? Entahlah karena yang selalu aku temui hanyalah hari ini.

*****

Garry ada benarnya juga. Dua hari lalu, menulis sebuah paragraf terasa gersang & kosong bagiku. Hari ini, yang kurasakan hanyalah keinginan untuk menulis apa pun yang aku pikirkan, terlepas aku menyukainya atau tidak.

Hati Pertamaku (oleh Imelda ‘Kin’ Yoseph)_

Kemarin aku merajuk, bahkan…

Langit sore keemasan tampak buruk, walaupun…

Semua insan memandangnya dengan mata melebar, namun…

Aku tidak bisa berkoar, bahwa…

Aku tidak mencintainya!

_Kin no kotoba_

Bukan hanya Garry yang mengatakan ini…

Kau hanya perlu jujur.

Apa yang sudah membuat hatimu tergerak, bergetar, gugup, terharu, sesak, dan bersemangat? Kalau kau sudah menemukannya, mulailah terbiasa dengan perasaan itu -walaupun emosi lain bisa saja membuat perbedaan. Jika sudah, mulailah menulis menggunakan kalimat paling sesuai, kalimat yang paling memuaskan hati terdalammu.

I love this part!

Bagian 1: Apa Sebenarnya yang Ada dalam Pikiranmu?

Bagian 3: Apakah Mereka Mulai Melihatmu Sebagai Dirimu?

Apa Sebenarnya yang Ada dalam Pikiranmu?

how.jpg

Bagian ke-1

“Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu?”

Sial, insomnia lagi!

Tapi kali ini, mungkin enggak benar-benar sial karena aku memanfaatkan waktu dengan membaca buku keren milik Garry Disher yang berjudul Writing Fiction: an introduction to the craft.

Garry book
Ini dia penampakan bukunya
Garry Disher
…dan ini Mr. Garry Disher

Sebagian orang yang sering jadi teman curhat aku pasti pernah (dan mungkin bosan) dengar cerita kalau aku suka nulis dari kecil. Well, itu betul, tapi kegemaran lebih dari satu dekade itu benar-benar enggak bisa dijadikan modal untuk menulis satu paragraf sekalipun.

Ketakutan-ketakutan penulis pemula diuraikan dengan gamblang oleh Garry. Sial lagi! Ketakutan-ketakutan itulah yang menyerangku saat ini.

1. Banyak penulis pemula yang terus beranggapan kalau sebuah fiksi itu harusnya sangat ‘berseni’, ‘penuh kata bunga, ‘indah’, dan ‘sulit dibaca’.

2. Banyak penulis pemula yang terus punya ide kalau tulisan itu bisa membuka rahasia penciptanya. Mereka takut pembaca bisa melihat siapa mereka, sehingga, tanpa sadar mereka pun menyajikannya dalam rupa yang tidak jelas.

Di 5 halaman pertama, aku juga menemukan banyak jawaban atas masalah yang bahkan aku sendiri tidak sadari selama ini. Dari sekian jawaban itu, mungkin ini yang paling jleb!

“Menulis itu bukan karena kau sudah memahami sesuatu atau mengetahui apa yang kau inginkan. Sebaliknya, teruslah menulis agar kau bisa tahu dan paham dengan apa yang paling kau inginkan.”

Hebat, bukan?!

Setelah membaca itu, aku pun membuka blog ini dan mulai menuliskan isi pikiranku.

Hahaha…asal kalian tahu, aku punya sebuah penyakit serius dalam hal ide. Malam ini, aku pikir ide A itu wow! Sayangnya, besok pagi ide itu benar-benar kelihatan konyol.

Beberapa waktu kemudian…ide itu dikembangkan oleh kepala milik manusia lain!

Hal ini sering terjadi. Aku pikir, bisa jadi ‘kesan konyol’ itu cuma alasan untuk enggak melanjutkan apa yang ada. Jadi, sebelum aku berpikir mempraktikkan saran milik Garry itu cuma membuang-buang waktu, dengan tanpa memedulikan rasa mual, aku pun mulai menulis tentang….

…..apa yang sedang aku pikirkan, sambil berharap aku bisa ‘membuka kunci’ untuk ide-ide yang lainnya. Aamiin yaa Rabb…

Untuk ulasan sekaligus praktik di bagian ke-1 cukup sampai di sini dulu, ya…

Ngomong-ngomong, I am very happy right now…hahahahaha….

 

Bagian 2: Bisakah Membuka Kunci Pintu Lainnya Dengan Mudah?

Bagian 3: Apakah Mereka Mulai Melihatmu Sebagai Dirimu?